About
Hello World!
Aku tak tahu harus menuliskan apa di menu About ini.. yang jelas aku akan berusaha mendiskripsikan siapa aku sebenarnya ke khalayak ramai.
Saat ini, aku duduk di meja kerjaku, di kantor BPS Provinsi Papua, di depanku ada sebuah laptop IBM T30 Pentium 4 yang sudah agak butut, ditemani desir pantai yang bisa kulihat langsung lewat jendela tepat di depanku, saat aku menulis ini cuaca sedang gerimis, mendung, dan jam tepat menunjukkan pukul 15.00 WIT. Aku akan berusaha membongkar kembali ingatanku hingga aku bisa terdampar di Jayapura ini…
- Chapter 1. The Arrival -
Waktu itu tanggal 12 April 2008 pukul 15.30 WIT kami rombongan CPNS Badan Pusat Statistik Provinsi Papua tiba di bandara Sentani, kami ber-14, termasuk aku, tiba dengan pesawat Batavia Air dengan selamat. Kami adalah Wahyu, Valve, Bayu, Dio, Paul, Agus, Heri, Pandu, Agung, Kristin, Desy, Mamba, Riska dan deppi, menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di tanah Papua, kecuali si Paul yang memang berdomisili asli di sini.
Kesan pertama adalah terkesima dengan pemandangan Papua yang indah, Sentani dikelilingi dengan perbukitan yang masih berwarna hijau dan diselimuti dengan kabut dan awan putih. Saat itu udara terasa dingin. Aku dan rombongan akhirnya dijemput dengan para pegawai BPS Provinsi Papua dan kami meluncur ke Jayapura dengan rute Sentani – Waena – Abepura – Jayapura, berjalan mengelilingi danau Sentani dengan waktu hampir satu jam. Dalam perjalanan aku terus tertegun dengan pemandangan Papua yang masih hijau dan indah.
Aku akhirnya sampai di kantor Provinsi BPS Papua, aku kebetulan ditempatkan di Provinsi, dan begitu banyak pekerjaan menantiku, aku harus semangat dan berusaha. Satu hal yang aku tanamkan dalam pikiranku, bahwa selama aku kuliah, negaralah yang membiayai aku, maka ketika negara membutuhkan aku, aku akan bekerja semaksimal mungkin.
Begitulah aku sampai di sini hingga menuliskan cerita ini.
- Chapter 2. The Departure -
Inilah aku, CPNS BPS per tanggal 1 Januari 2008 dari lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Statistik Jakarta. Pengumuman sudah ditetapkan dan aku bersama ketigabelas teman-temanku akan ditempatkan ke Provinsi Papua. Mendengar keputusan itu aku mula-mula agak kaget, karena Provinsi Papua tidak dalam hitungan pilihan penempatan yang aku isi di formulir penempatan tempo lalu.
Tapi tetap satu hal yang ada dalam benakku, aku tak peduli! Bukan “Di mana” yang seharusnya menjadi pertanyaan, namun “Bagaimana” yang benar-benar harus kita jawab dengan hasil pekerjaan kita di manapun aku berada. Itu bukan pembenaran, namun suatu sikap optimis dan berpikir positif. Karena saat ini aku sangat membutuhkan energi positif.
Begitulah semua berlalu hingga pada tanggal 12 April pukul 04.00 WIB, aku harus membawa Travel Bag super besar dan tas laptopku dari kos-kosanku di daerah Kebon Nanas Selatan, Jakarta Timur ke arah jalan utama Ottoiskandardinata untuk menghentikan taksi. Sebelumnya aku sempat berpamitan dengan teman samping kamarku, namanya Jumadi, anak Bengkulu yang maniak Bridge dan gitar listrik. Mulai saat itu juga aku akan jarang mendengar bunyi gitar listriknya yang sumbang di malam hari..
Di pinggir jalan Otista aku bertemu dengan Kristin dan Dio yang berangkat duluan ke Soekarno-Hatta, aku menunggu seseorang untuk berangkat bersama.. Di situ nampak temanku si Poltak yang baru saja mengantar Dio, temen sekosnya, juga ada Erfal, cowok yang agak error. Poltak kebagian penempatan Sulawesi Utara, provinsi yang memang dipilihnya.
Setelah acara pisah-pisahan singkat di pinggir jalan Otista, tepatnya di depan Bengkel ban trijaya, yang kalo malam hari di depannya selalu ada penjual pecel lele dan ayam goreng, huh.. aku akan merindukannya…
Tiba-tiba aku di dalam taksi ke arah Soekarno-Hatta, pagi itu Jakarta hujan gerimis.. semakin melengkapi kesedihanku untuk berpisah dengan teman-teman. Di sampingku, di jok belakang, si Desy sedang menangis kecil mengingat temen-temen kosnya yang 30 menit lalu menangisi pemberangkatannya, aku berusaha menguatkan dan menghiburnya… Di jok depan, si Erfal yang terus berbicara kesana-kemari membuat hangat suasana Jakarta pagi yang beku.
Sekitar 70 ribu rupiah aku keluarkan dari dompet untuk membayar ongkos taksi. si Erfal sudah standby dengan trolinya untuk membantu aku mengangkat tas superku. Thanks Fal! Nah, ternyata di pintu bandara sudah berkumpul temen-temen se penempatan, tinggal Mamba yang masih belum terlihat batang hidungnya..
Akhirnya datang juga waktu yang ditunggu-tunggu, setelah semua administrasi yang harus kami lewati di bandara, setelah semua marah kepada Mamba karena terlambat, aku terduduk santai di kursi nomor 22A. Tepat pukul 07.30 WIB pesawatku melesat ke awan Jakarta, siap mengantarku ke Papua…
- Chapter 3. The Campus -
Saat itu aku sedang kuliah hari ke tiga di PENS ITS Jurusan elekronika jalur D4, aku baru saja mengikuti kuliah matematika, tiba-tiba HPku berdering dan kulihat, ternyata bapak yang menelepon. Saat itu HPku masih sangat jadul sekali, aku lupa tipenya, yang jelas sangat berat dan menggangu kalo dimasukin ke saku celana. Tiba-tiba bapak berkata, “Yu, kamu diterima di STIS!!” Hah! aku langsung kaget bercampur bahagia.. “Bener Pak?” aku menjawab. “Bener! pengumumannya sudah keluar tadi”. Dan setelah semua percakapan bahagiaku dengan bapak, minggu itu juga aku cabut dari PENS ITS dan melesat pulang untuk registrasi pendaftaran STIS. Bahkan Bapak sendiri yang menjemputku dari Surabaya! Di Surabaya, aku ngekos di tempat Masku, yang waktu itu sedang dokter muda di Airlangga.
Akhirnya aku resmi jadi mahasiswa STIS (Sekolah Tinggi Ilmu Statistik), salah satu PTK di Indonesia yang berada di bawah Badan Pusat Statistik. Untuk menjadi mahasiswa di situ, kita harus tes sebanyak 3 kali, pertama tes pengetahuan umum (Matematika, Bahasa Inggris, Pengetahuan Umum), kedua tes Psikologi, terakhir tes kesehatan. Memang melelahkan, namun jika berhasil melewati tes tersebut, kita akan kuliah gratis dan mendapat uang saku per bulan!!
5 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
1.
Ratna | Mei 9, 2008 at 12:28 am
Wahyu..desi..and friends..
-
duh akhirnya seneng dech liat2 foto2 kalian, sumpah na2 ngiri banget, kapan ya bisa maen2 ke Papua..hehe..kalian baek2 ya disana, gimana kabar deppi kandungannya sehat2 kan???
salam buat smua teman2 di papua ya..
duh kesepian niy di Pusat..
smuaN jd serba “long distance”
-Long distance ma keluarga, pacar, and sahabat
duh ko jd curhat..hehe..
sukses ya buat kalian semua..
kalo ada yang nikah kasih tw ya…
2.
Yohanes Wahyu | Mei 11, 2008 at 2:12 pm
terima kasih Na, semuanya baik-baik aja kok di sini, sering dapat makan gratisan malahan..kwakwaa..
Btw, Suruh si Ekomu buat blog aja, YM-an kek, skalian pake webCam, di jamin seru (halah..!!)
sukses jg buat anak2 di pusat.
3.
winatanet | Mei 11, 2008 at 11:07 pm
visit pandupulsa.wordpress.com
4.
winatanet | Mei 11, 2008 at 11:11 pm
yu ayo ndang cepet aduse, ra suwe ngopo suwe2 #@**! yo? tanda tangan kae, soko pengolahan podes
5.
Yohanes wahyu | Mei 12, 2008 at 11:31 am
Dana segar mengalir deras….